Lombok Tengah, Barbaretonews — Suasana Pondok Pesantren ABW di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, sempat ramai pada Senin malam (21/9). Sejumlah wali santri mendatangi lingkungan pondok pesantren hingga larut malam.
Para Wali Santri datang setelah menyaksikan video investigasi BBC News Indonesia yang mengangkat kesaksian dua mantan santri terkait dugaan kekerasan seksual, intimidasi, dan ancaman.
Video yang berjudul “Aib Sang Guru: Dua Mantan Santri Bersuara Soal Kekerasan Seksual, Intimidasi dan Ancaman” tersebut memicu kekhawatiran sejumlah orang tua yang anaknya tengah menempuh pendidikan di Ponpes ABW.
Salah satu wali santri, H. Sunardi, wali santri asal Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat tiba di lokasi sekitar pukul 23.30 WITA dengan kekhawatiran terhadap kondisi putrinya yang baru sekitar tiga bulan menjadi santri di pondok tersebut.
“Saya hanya khawatir setelah menonton laporan BBC itu. Saya mau menarik anak saya,” ujar Sunardi saat ditemui di area ponpes.
Tidak hanya Sunardi, sedikitnya empat wali santri lainnya juga datang dengan keinginan yang sama. Mereka hendak membawa pulang putri masing-masing setelah melihat pemberitaan tersebut.
Kedatangan para wali santri itu kemudian turut menarik perhatian warga sekitar. Sejumlah masyarakat terlihat mendatangi area pondok pesantren untuk mengetahui situasi yang berkembang.
Untuk mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan, Bhabinkamtibmas setempat, Aipda Lalu Wira AS saat berada di lokasi dan melakukan pemantauan, membenarkan adanya kedatangan wali santri maupun warga sekitar ke lingkungan ponpes. Namun, menurutnya, situasi saat itu masih berjalan aman dan terkendali.
“Betul, selain wali santri, ada warga sekitar ponpes yang juga berdatangan ke area ponpes. Namun, situasi aman terkendali,” kata Lalu Wira.
Karena kondisi sudah larut malam, aparat kemudian meminta para wali santri untuk tidak mengambil tindakan secara terburu-buru. Mereka diarahkan kembali pada keesokan harinya agar dapat menyampaikan langsung persoalan tersebut kepada pimpinan maupun pengurus pondok pesantren.
Sementara itu, pengasuh Ponpes ABW berinisial TGH AIS belum memberikan penjelasan panjang mengenai isi laporan investigasi BBC News Indonesia tersebut.
Saat ditemui di kediamannya, TGH AIS hanya memberikan jawaban singkat ketika ditanya mengenai persoalan tersebut.
“Serah juk sak kuase,” katanya, yang berarti menyerahkan persoalan tersebut kepada Yang Maha Kuasa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak Ponpes ABW mengenai tuduhan yang menjadi materi dalam video investigasi tersebut maupun langkah yang akan dilakukan pihak pesantren menyikapi kekhawatiran para wali santri.


