LOMBOK TENGAH – Pilihan hidup untuk mengabdi seringkali menuntut pengorbanan zona nyaman, dan itulah yang saat ini ditunjukkan oleh H. Fuaedi.
Sosok birokrat senior yang telah mengabdi di Pemerintahan lebih dari 30 tahun ini memantapkan langkah untuk kembali ke tanah kelahirannya, mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Bebuak, Kecamatan Kopang, demi sebuah cita-cita besar, yakni membawa perubahan nyata yang telah lama dinantikan masyarakat.
Langkah H. Fuaedi yang rela meninggalkan posisi mapannya di birokrasi kecamatan demi mengurusi urusan desa yang kompleks bukanlah perkara yang bisa dilakukan kebanyakan orang.
Baginya, kenyamanan jabatan bukanlah tujuan utama jika dibandingkan dengan panggilan moral untuk memajukan kampung halaman yang menurutnya masih membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang berpengalaman.
H. Fuaedi bukanlah sosok sembarangan, ia memiliki rekam jejak pengabdian panjang, selama lebih dari 37 tahun di dunia birokrasi. Karirnya dimulai sejak usia sangat muda, sesaat setelah menamatkan bangku SMA pada tahun 1989, di mana ia langsung diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditugaskan pertama kali di Bima.
Selama empat tahun di Bima (1989–1993), ia mengasah disiplin dan etos kerja sebagai perantau muda. Pengalaman tersebut menjadi fondasi kuat baginya saat kembali bertugas di Lombok Tengah, mulai dari Dinas Penerangan Praya, hingga menjadi juru penerang di wilayah pemekaran Batu Kliang dan Batu Kliang Utara saat itu.
Fleksibilitas kepemimpinannya teruji saat ia berpindah-pindah tugas di berbagai instansi, mulai dari Dinas Pertanian dan Peternakan hingga Dinas Lingkungan Hidup.
Pengalaman lintas sektoral ini memberinya perspektif luas tentang bagaimana mengelola sumber daya alam dan manusia secara terintegrasi, sebuah modal berharga yang kemudian ia terapkan saat pertama kali menjabat sebagai Kepala Desa Bebuak pada periode 2012–2018.
Selama masa jabatan pertamanya tersebut, H. Fuaedi telah membuktikan diri sebagai tangan dingin yang mampu menghadirkan perubahan signifikan.
Salah satu mahakarya yang hingga kini dinikmati masyarakat adalah pembangunan Embung Bisok Bokah. Fasilitas ini bukan sekadar penampung air, melainkan urat nadi irigasi bagi pertanian warga sekaligus potensi wisata desa yang asri.
Tak berhenti di situ, ia dikenal berani mendobrak keterisolasian wilayah dengan membuka jalan-jalan baru di medan yang sangat sulit. Salah satu yang paling monumental adalah pembangunan jalan di area Jurang Bolor, yang sebelumnya hanya merupakan jalan setapak dengan medan curam yang berbahaya.
Dengan anggaran yang dimaksimalkan, ia berhasil membangun talud tinggi dan membuka akses jalan raya yang kini mengintegrasikan dusun-dusun di Desa Bebuak.
“Jadinya terintegrasi dari yang arah barat. Kalau dia mau ke dusun Desa sebelah tidak harus muter. Jadi dia langsung tet langsung nyampai terus,” ucap Fuaedi saat ditemui, Jumat (21/8/2026).
Kini, keputusannya untuk maju kembali didasari oleh kegelisahan melihat Desa Bebuak sebagai desa induk yang justru tampak tertinggal dibandingkan desa-desa hasil pemekarannya, seperti Desa Presa yang kini mulai dikenal dengan branding desa wisatanya.
Ia merasa ada tanggung jawab yang belum tuntas untuk menyejajarkan Bebuak dengan kemajuan wilayah sekitarnya. H. Fuaedi menegaskan bahwa motivasinya murni untuk pengabdian, bukan mencari keuntungan materi.
“Kalau kita berorientasi kepada ekonomi, menurut saya tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan. Karena kalau kita berpikir keuntungan, kita akan bertanya berapa yang didapat sebelum bekerja,” tuturnya.
Ia menganut filosofi kerja yang unik, yang ia istilahkan sebagai filosofi Sekah Gendang atau Sekah Kecimol. Filosofi ini bermakna bahwa seorang pelayan masyarakat harus fokus memberikan penampilan atau kerja terbaiknya terlebih dahulu demi kebahagiaan rakyat, tanpa merisaukan imbalan apa yang akan diterima di akhir nanti.
Visi utama yang ia bawa adalah “Bersatu mewujudkan perubahan menuju Bebuak yang sejahtera”.
Baginya, persatuan adalah kunci utama, karena tanpa keharmonisan antar lembaga dan masyarakat, pembangunan sehebat apapun akan sulit berjalan maksimal. Ia mengibaratkan persatuan seperti seikat lidi yang takkan mudah dipatahkan jika sudah menyatu.
Fokus pembangunan ke depannya akan tetap berpijak pada sektor pertanian, mengingat 90% masyarakat Bebuak menggantungkan hidup di sektor ini.
Namun, ia juga berencana mengembangkan potensi pariwisata berbasis agrikultur dengan memanfaatkan aset yang sudah ada seperti Balai Bangket sebagai motor penggerak diskusi dan kreativitas anak muda.
Pengalaman masa lalunya saat memenangkan Pilkades 2012 dengan hanya meraih tujuh suara di satu dusun (Lingkuk Lendang) menjadi bukti nyata inklusivitasnya.
Alih-alih memusuhi wilayah yang tidak memilihnya, ia justru langsung mendatangi warga setempat setelah dilantik untuk merangkul mereka bersama-sama membangun desa.
Sebagai sosok yang besar di lingkungan aturan, ia berkomitmen untuk selalu menjadikan hukum sebagai payung utama dalam setiap kebijakan desa.
“Yang namanya birokrasi itu kan ada aturan yang menjadi acuan utama kita, yang menjadi payung hukum kita. Kita tidak bisa berbuat di luar aturan,” jelasnya.
Harapan besar kini disampirkan di pundak H. Fuaedi oleh para pendukungnya. Dengan bekal 37 tahun pengalaman birokrasi dan rekam jejak pembangunan yang nyata, ia siap mewakafkan sisa pengabdiannya untuk memastikan Desa Bebuak kembali ke jalur kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakatnya.
Di satu sisi, pegiat wisata skaligus owner angkringan Bale Bangket yang ada di Bebuak, Hakim Zikri berharap perubahan signifikan bisa tercapai dengan kepemimpinan Fuaedi kedepannya.
Sosoknya yang malang melintang di dunia Birokrasi diamanatkan bisa menjadi sosok yang bisa merangkul semua perbedaan yang ada di Desa ini.
“Utama sekali disektor Wisata, kita sebagai desa Induk sebelum mekarnya 6 Desa disini harus bisa berbuat banyak, paling tidak mensejajarkan diri dengan desa maju yang awalnya pemekaran dari Desa Bebuak seperti Presak, Lendang Are, dan lainnya,” singkatnya.


